KALTENG POS, Senin, 12 Mei 2008
Dunia Meratapi Kerusakan Hutan Indonesia
Sonny: Makin Boros, Makin Banyak SDA Kalimantan Dikeruk
PALANGKA RAYA – Kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya merugikan penduduk Indonesia. Masyarakat dunia pun terkena imbas laju kerusakan hutan di Indonesia yang berdampak pada krisis lingkungan global. Dunia pun prihatin dan meratapi kerusakan hutan di Kalimantan, yang memperparah kerusakan lingkungan hidup secara global. Bahkan menurut prediksi mantan Menteri Lingkungan Hidup Dr Sonny Keraf, jika tidak segera diantisipasi kerusakan hutan di Papua pun segera terjadi.
“Akar problem lingkungan adalah perilaku manusia karena kerakusan dan ketamakan baik individu maupun perusahaan, tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Kerakusan ini disebabkan adanya revolusi industri yang lebih mengedepankan sisi ekonomis dengan cara mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari sumber daya alam,” kata Sonny saat jadi menjadi pembicara (panelis) di seminar “Kesejatian Hidup Dalam Pemberdayaan Lingkungan”, di Ruang Serbaguna Komplek Gereja Katolik Jalan Tjilik Riwut, Sabtu (10/5).
Sonny yang menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Presiden Megawati Sukarno Puteri menyebut, dunia sedang berupaya menyelamatkan lingkungan hidup dan bersama-sama mencari solusi agar krisis lingkungan global dapat diredam. Sebab, sekalipun masalah ini dihadapi dunia, namun kerusakan lingkungan di Indonesia sudah dirasakan penduduknya.
Masyarakat Indonesia kini mengalami krisis pangan dan krisis energi. Belum lagi dampak sosial yang diakibatkan dampak pemusnahan lingkungan. Misalnya alih fungsi lahan di beberapa kawasan. Banyak dampak sosial yang terjadi karena alih fungsi lahan, seperti konflik antara pengusaha dengan masyarakat lokal.
Lebih jauh Sonny mengatakan, sudah waktunya manusia kembali ke Hukum Kasih, yaitu mencintai sesama seperti mencintai dirinya sendiri. Dengan demikian, manusia juga bisa mencintai lingkungannya dan menjaga agar kerusakan tidak bertambah parah serta berupaya membenahinya.
“Aplikasi konkret yang mudah dilakukan, misalnya tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon. Tidak kalah pentingnya melakukan penghematan energi. Semakin boros kita menggunakan lampu, semakin banyak sumber daya alam seperti batu bara dari Kalimantan dikeruk,” tegasnya.
Sonny menjadi pembicara di depan ratusan peserta bersama Uskup Palangka Raya Mgr Dr Aloysius Sutrisnaatmaka (mantan dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta) dan Sabinus Malano dari Balikpapan Orangutan Survival (BOS) Kalteng.
Seminar ini diselenggarakan oleh STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya sebagai rasa kepedulian terhadap alam dan bumi kita. (ust)





Saya sudah mengunjungi situs ini. Tulisannya sangat menarik dan inspiratif. Saya mohon izin ya mengagregasinya ke Planet Borneo.
Terima kasih
[...] yang hangat dibicarakan oleh para pelindung lingkungan hidup. Seminar yang diselenggarakan oleh STIPAS Tahasak Danum Pambelum yang dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2008 juga mengetengahkan tema ini. Para pembicara [...]